• Beranda
  • Profil
  • Kegiatan
  • Pidato
  • Tulisan
  • Ulasan Berita
  • Galeri
  • Video
  • Kontak
RSS
Ketua DPD RI Irman Gusman (tengah) bersama penulis (kiri) dan Ketua MPR RI Taufik Kiemas dalam launching Buku Negara Paripurna karya Yudi Latif.

Ketua DPD RI Apresiasi Buku Negara Paripurna Karya Yudi Latif

JAKARTA, 11 April 2011. Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Irman Gusman hari ini (11/4), menghadiri sekaligus memberikan sambutan dalam peluncuran perdana buku “Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila”, karya intelektual muda Indonesia Yudi Latif. Buku yang mencoba mencari identitas bangsa dengan  menggali kembali sejarah pembuatan dan perumusan Pancasila ini, dihadiri oleh beragam kalangan. Seperti Ketua MPR RI Taufik Kiemas, Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung, mantan Menpora Adiyaksa Daud, Anggota DPR RI Jafar Hafsah, mantan Kepala BIN A.M. Hendropriyono, Budayawan Dawam Rahardjo, Rohaniawan Franz Magniz Suseno, Pendiri CSIS Hari Tan Silalahi, aktivis Hariman Siregar dll.

Dalam sambutannya, Yudi menyatakan bahwa buku tersebut dibuatnya paska Pemilu 2009 lalu. Ada semacam kegelisahan yang menggelayut dihatinya, mengenai permasalahan dan problematika bangsa ini yang tak kunjung selesai sampai hari ini. Padahal bangsa ini telah merdeka sejak lama dan juga telah menjalankan prinsip-prinsip demokrasi dengan diadakannya Pemilu 2009.

Berdasarkan kegelisahannya itu, Yudi, menuliskan buku tersebut guna menemukan kembali jati diri bangsa Indonesia. “Peradaban besar Eropa muncul yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan revolusi industri, diawali dengan sebuah pertanyaan, “who are we?”. Kemudian mereka mulai menggali kembali peradaban Athena dan Romawi yang dulu pernah menjadi peradaban besar,” jelas Yudi dengan tegas di hadapan ratusan peserta yang menghadiri Grand lauching bukunya di Gedung Nusantara V, Komplek Parlemen RI Senayan,Jakarta.

“Pun begitu dengan Jepang dan India yang berhasil menemukan siapa dirinya melalui Restorasi Meiji dan Relating India History-nya. Sehingga mereka maju saat ini,” tambah Yudi.

Menurutnya, sebuah bangsa atau negara tidak akan maju kalaulah bangsa tersebut tidak memiliki jati diri atau tidak mengenal apa, siapa dan bagaimana bangsanya.

Melalui buku yang ia buat, ia berharap bangsa ini dapat mengenal jati darinya sekaligus menjawab pertanyaannya diawal sambutannya, “who are we?”.

Sementara itu dalam sambutannya, Irman mengapresiasi pembuatan buku karya intelektual muda Indonesia tersebut. Adanya buku tersebut semoga bisa menemukan siapa bangsa ini sesungguhnya, dengan menggali sejarah dan nilai yang terkandung dalam Pancasila yang dijelaskan dalam buku tersebut.

“Pancasila terbukti mengatasi masalah bangsa karena dirangkum dari berbagai akar budaya bangsa. Pancasila kemudian menjadi kerangka acuan hukum, sosial dan budaya yang merekat keberagam tadi”, papar Irman.****

blog comments powered by Disqus