Pemimpin Baru

Membawa perubahan baru dari dan untuk negeri

about
2013

Melihat prestasi dan kredibiltas Irman Gusman, pada 10 April 2013 Presiden Republik Indonesia yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, menawarkan Irman untuk mengikuti Konvensi Calon Presiden yang diadakan Partai Demokrat. Irman Gusman menjadi orang pertama yang diundang secara langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengikuti Konvensi Capres tersebut.

Kini, melalui jargon “Maju Indonesiaku!” Irman Gusman berkontribusi memberikan gagasan kebangsaannya di dalam Konvensi Capres Partai Demokrat. Konsistensi dalam memperjuangkan rakyat, karir politik yang bersih, serta kecerdasan dan pengalamannya, menjadi modal potensial bagi Irman untuk meningkatkan peran sertanya dalam memperbaiki dan membangun bangsa sebagai Calon Presiden Republik Indonesia.

2012

Dalam perjalanan karir politiknya, Irman Gusman dikenal sebagai salah seorang penggagas sistem politik dua kamar (bikameral) dalam parlemen Indonesia. Selain itu ia juga menjadi salah satu pejuang perubahan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, dimana presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat, pembatasan masa jabatan presiden hanya dua periode, lahirnya Mahkamah Konstitusi serta Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI).

Sebagai bentuk penghargaan dari konsistensi Irman Gusman di jalur politik dalam memperjuangkan keutuhan NKRI, pada Maret 2013 Irman Gusman diangkat sebagai keluarga kehormatan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dalam rangkaian HUT ke-61 Kopassus. Penghargaan ini termasuk langka untuk kalangan sipil karena penghargaan tersebut biasanya diberikan dengan kriteria yang ketat.

2009-2010

Irman kembali terpilih menjadi anggota DPD RI mewakili Sumatera Barat dan menerima mandat sebagai Ketua DPD RI dengan wakil ketua Laode Ida dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Selagi mengemban tugas sebagai Ketua DPD RI, ia mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana, yaitu bintang tanda kehormatan sipil kedua tertinggi setelah Bintang RI yang hanya diberikan kepada Presiden dan Wakil Presiden, yang diserahkan oleh kepala negara dalam Upacara Kenegaraan di Istana Merdeka pada 2010.

Irman menerima bintang jasa ini bersama dengan Anton Apriyantono (Mantan Menteri Pertanian) dan Rachmat witoelar (Mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Rusia). Irman juga dinobatkan sebagai penghulu suku Pisang Nagari Guguak Tabek Sarojo dengan gelar Datuk Rajo Nan Labiah yang dipercayakan kepadanya karena dipercaya telah membanggakan Sumatera Barat.

2004

Ia menggagas terbentuknya Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan terpilih menjadi anggota DPD RI mewakili Sumatera Barat.

Sesuai dengan Keputusan DPD RI No III/DPD/2004 tentang Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Irman pun dilantik menjadi Wakil Ketua DPD RI bersama dengan Dr. Laode Ida yang dipercaya untuk mendampingi Prof. Dr. Ir. Ginandjar Kartasasmita yang terpilih menjadi Ketua DPD RI.

1999

Irman terjun ke kancah politik dan menjadi Anggota MPR Utusan Daerah Sumatera Barat atas pencalonan Fraksi TNI/Polri. Pada tahun ini, ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi Utusan Daerah (FUD) dengan masa jabatan dari tahun 1999-2004.

1992

Pada 14 Juni 1992, Irman menikah dengan gadis pujaan hatinya yaitu Liestyana Rizal, gadis dari keluarga asal Sungai Batang, Maninjau. Dari pernikahannya ini, Irman dan Lies dikaruniai tiga orang anak: Irviandari Alestya Gusman (1993), Irviandra Fathan Gusman (1995), Irvianjani Audreya Gusman (2002)

1988

Lulus dan mendapatkan gelar Master of Business Administrastion (MBA) dan kembali ke kampung halaman untuk mengurus perusahaan kayu milik keluarga bernama PT Khage Lestari Timber yang saat itu dalam keadaan terlilit hutang. Berkat kemampuan dan intelektualitasnya, ia berhasil mengembalikan posisi keuangan perusahaan menjadi positif dan perusahaan dapat mengekspor produk-produknya ke luar negeri.

Di samping itu, Irman juga pendiri sekaligus Komisaris Utama di Padang Industrial Park (sebuah kawasan industri yang didirikan di atas lahan seluas 200 hektar). Irman juga menjadi Direktur PT Prizako Prakarsa sebuah perusahan yang bergerak sebagai penyuplai keperluan kontraktor perminyakan.

1985-1986

Irman Gusman menyelesaikan studinya dan diwisuda sebagai Sarjana Ekonomi. Irman termasuk dalam 20% dari 350 mahasiswa yang diwisuda dengan menyelesaikan masa studi yang cepat pada masa itu. Setelah lulus, Irman meneruskan studi S2 ke Graduate School of Business, University of Bridgeport, Connecticut, Amerika Serikat dengan program MBA dan konsentrasi marketing.

1983

Saat menamatkan sarjana muda dan memasuki tingkat doktoral, Irman juga dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua Senat FE UKI yang membidangi organisasi dan kaderisasi. Ia juga dipercaya untuk mengemban tugas sebagai Ketua Panitia Ospek (Orientasi Studi Pengenalan Kampus) selama dua tahun berturut-turut.

1979

Setelah menamatkan pendidikan SMA di Padang, Irman Gusman memilih untuk mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Irman juga menjadi salah satu dari lima anggota BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) FE UKI dari angkatan 1979.

Selain belajar, Irman juga aktif mengikuti kegiatan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta hingga akhirnya pada tahun 1981 Irman mengikuti Latihan Kepemimpinan Dasar yang diadakan HMI Cabang Jakarta dan menjadi kader HMI.

1962

Irman Gusman lahir di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, 11 Februari 1962 sebagai anak kedua dari 14 bersaudara buah perkawinan pasangan Drs. H. Gusman Gaus dan Hj. Janimar Kamili. Kedua orangtuanya berasal dari rumpun keluarga Suku Sikumbang dan Suku Pisang dari Nagari Guguk Tabek Sarojo.

Tinggalkan Komentar Anda

Scroll